Selamat Datang di Website KUA Kecamatan Alor Barat Daya Kabupaten Alor - Kawasan Zona Integritas Menuju Wilayah Bebas Korupsi (WBK), Wilayah Birokrasi Bersih Melayani (WBBM)

Bimbingan Perkawinan Catin Syamsudin A. Ola dan Anastasya R. Kalake - KUA ALOR BARAT DAYA

Info Terkini

Bimbingan Perkawinan Catin Syamsudin A. Ola dan Anastasya R. Kalake


 Moru, 29 Juli 2026. KUA Alor Barat Daya kembali menggelar prosesi Bimbingan Perkawinan bagi calon pengantin (catin) atas nama Syamsudin A. Ola dan Anastasya R. Kalake. Kegiatan ini bertujuan memberikan bekal ilmu agama, mental, serta keterampilan dalam mengatasi persoalan rumah tangga, sehingga pasangan mampu membangun keluarga yang harmonis dan SAMAWA (Sakinah, Mawaddah, Warahmah).

Di sebuah ruangan sederhana di KUA Alor Barat Daya, suasana penuh harapan terasa hangat. Syamsudin A. Ola dan Anastasya R. Kalake duduk berdampingan, wajah mereka memancarkan semangat sekaligus rasa gugup. Hari itu bukan sekadar pemeriksaan berkas, melainkan langkah awal menuju kehidupan baru sebagai pasangan suami istri.


Kepala KUA, Yusli Kiko, S.Pd.I, dengan teliti memeriksa dokumen mereka. Senyumnya menenangkan, seolah ingin memastikan bahwa perjalanan cinta dua insan ini berjalan tanpa hambatan. Setelah berkas dinyatakan lengkap, giliran Ustadz Jumadi Mau, S.Kom.I mengambil alih suasana. Dengan suara lembut namun penuh wibawa, ia mengutip firman Allah dalam Surat At-Tahrim ayat 6, mengingatkan bahwa menjaga keluarga bukan hanya soal cinta, tetapi juga tanggung jawab besar di hadapan Allah.

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…”

Ayat itu membuat Syamsudin menunduk, seolah merenungi peran barunya sebagai pemimpin rumah tangga. Anastasya yang terlihat senyum, memberi isyarat bahwa ia siap mendampingi dalam suka maupun duka.

Ustadz Jumadi kemudian menguatkan dengan hadits Rasulullah SAW: “Terangilah rumahmu dengan selalu membaca Al-Qur’an dan shalat di dalamnya.” Ia menambahkan tiga pusaka sederhana namun mendalam: ucapan tolong, terima kasih, dan maaf. Kata-kata itu membuat Anastasya tersenyum, membayangkan rumah tangga yang dipenuhi kehangatan dan saling menghargai.

Pesan tentang menghargai pekerjaan istri, mengubah kebiasaan yang tidak disukai menjadi ladang pahala, serta saling memahami hak dan kewajiban, terasa begitu membumi. Tidak ada teori rumit, hanya nasihat yang menyentuh hati dan mudah dipraktikkan.

Di akhir sesi, Syamsudin dan Anastasya tampak lebih tenang. Mereka bukan hanya membawa pulang berkas yang lengkap, tetapi juga bekal spiritual dan moral untuk menapaki jalan panjang pernikahan. Bimbingan ini bukan sekadar acara formal, melainkan kisah tentang dua insan yang belajar mencintai dengan cara yang diajarkan agama—menuju keluarga yang Sakinah, Mawaddah, Warahmah.(Rifai)

 

Tidak ada komentar